Usianya jauh di atas saya. Dia sudah mempunyai dua orang anak waktu saya masih kelas 2 SD. Perawakannya kurus, garis wajahnya mulai dipenuhi oleh tekanan batin yang cukup hebat. Dulu waktu masih sekolah, dia adalah seorang murid jempolan. Guru-gurunya bangga dengan dia. Dan jenjang pendidikan terus naik, memasuki masa kuliah, dia dibiayai oleh salah seorang gurunya untuk melanjutkan study di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Kecemerlangannya terus bersinar, sampai tibalah masa itu, masa ketika perempuan itu datang, dia jatuh cinta, lalu mendesak kedua orangtuanya untuk segera menikahkan. Pertentangan antar generasi kemudian datang, orangtuanya ingin agar dia menyelesaikan dulu study, setelah itu baru menikah, “bereskeun heula kuliah, engke oge da pasti dikawinkeun, sing sabar saeutik, pan maneh teh kuliah tinggal sataun deui”, demikian nasihat orangtuanya. Tapi karang terlalu keras untuk diterjang, tekad sudah terlalu bulat untuk dibendung. Mereka kemudian menikah, dia berhenti kuliah dan istrinya baru saja lulus dari Madrasah Tsanawiyah, sekolah Islam setingkat SMP. Bahtera muda itu kemudian berlayar, di sekitar pantai pemandangannya masih terlihat indah dan angin masih semilir menenangkan. Semakin ke tengah, barulah badai itu datang.
Pertengkaran tak habis-habis. Talak entah sudah berapa kali dijatuhkan. Tapi si istri terus saja melahirkan anak. Inilah keajaiban dunia nomor delapan. “Bila cinta tak indah bagimu, mengapa kau tetap bertahan?”, demikian kata The Panasdalam. Anak-anaknya terus bertumbuh, biaya pendidikan semakin menggantang, kebutuhan ekonomi terus melambung, dan pertengkaran terus berlangsung. Keduanya telah sama-sama kurus, badan mereka habis dimakan emosi dan pikiran. Sekarang anak mereka sudah berjumlah sembilan orang, dan kedua orangtuanya telah berpisah. Mereka semua ikut bapaknya, wajah laki-laki itu semakin penuh oleh garis tegas tentang kekecewaan.
Di sebuah jenak kehidupan, saya mendapatkan kisah ini dari seorang kawan. Ini bukan soal menggugat pernikahan dini yang bersandar pada syariat, bukan pula mendukung program pemerintah tentang pembatasan anak, tapi ini soal latihan pernafasan. Banyak sekali pelari marathon yang tenaganya habis sebelum menyentuh garis finish. Prajurit gugur sebelum habis bertempur. Dan bangunan terbengkalai sebelum selesai. Peta manusia tidak sama dengan atlas dunia. Garis sebagai symbol jalan tidaklah tetap, tapi berubah dinamis mengikuti deretan keputusan.
Sebenarnya kisah nyata ini ingin sekali saya tuliskan dalam bentuk cerpen atau novel, tapi saya tidak ingin berdebat. Saya hanya ingin menuliskan kisah kemanusiaan yang sederhana. Terkadang idealisme ditikam kenyataan, dan impian dihancurkan keadaan. Siapa yang keluar sebagai juara?, merekalah yang rajin berlatih pernafasan. Dan para pemenang instant tidak pernah layak untuk dikenang. [ ]
Uwa, 15 Nov ‘10
Pertengkaran tak habis-habis. Talak entah sudah berapa kali dijatuhkan. Tapi si istri terus saja melahirkan anak. Inilah keajaiban dunia nomor delapan. “Bila cinta tak indah bagimu, mengapa kau tetap bertahan?”, demikian kata The Panasdalam. Anak-anaknya terus bertumbuh, biaya pendidikan semakin menggantang, kebutuhan ekonomi terus melambung, dan pertengkaran terus berlangsung. Keduanya telah sama-sama kurus, badan mereka habis dimakan emosi dan pikiran. Sekarang anak mereka sudah berjumlah sembilan orang, dan kedua orangtuanya telah berpisah. Mereka semua ikut bapaknya, wajah laki-laki itu semakin penuh oleh garis tegas tentang kekecewaan.
Di sebuah jenak kehidupan, saya mendapatkan kisah ini dari seorang kawan. Ini bukan soal menggugat pernikahan dini yang bersandar pada syariat, bukan pula mendukung program pemerintah tentang pembatasan anak, tapi ini soal latihan pernafasan. Banyak sekali pelari marathon yang tenaganya habis sebelum menyentuh garis finish. Prajurit gugur sebelum habis bertempur. Dan bangunan terbengkalai sebelum selesai. Peta manusia tidak sama dengan atlas dunia. Garis sebagai symbol jalan tidaklah tetap, tapi berubah dinamis mengikuti deretan keputusan.
Sebenarnya kisah nyata ini ingin sekali saya tuliskan dalam bentuk cerpen atau novel, tapi saya tidak ingin berdebat. Saya hanya ingin menuliskan kisah kemanusiaan yang sederhana. Terkadang idealisme ditikam kenyataan, dan impian dihancurkan keadaan. Siapa yang keluar sebagai juara?, merekalah yang rajin berlatih pernafasan. Dan para pemenang instant tidak pernah layak untuk dikenang. [ ]
Uwa, 15 Nov ‘10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar